Cukilan, Suruh, Kabupaten Semarang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan kegiatan edukasi bertajuk "Sosialisasi Evaluasi Kinerja dan Penerapan Sistem Baru Bank Sampah" bagi warga Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini secara khusus menyasar kolaborasi antara kelompok ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta pemuda Karang Taruna setempat. Program ini dicanangkan untuk mengurai kendala berhentinya operasional bank sampah di masa lalu, sekaligus merumuskan tata kelola baru yang lebih terstruktur, praktis, dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.
Pelaksanaan kegiatan ini mengambil tempat di salah satu area berkumpul warga yang biasa dijadikan lokasi pertemuan rutin desa. Dalam balutan suasana yang santai dan penuh keakraban, para peserta yang terdiri dari ibu-ibu dan pemuda desa duduk bersama menyimak pemaparan materi dari mahasiswa KKN. Diskusi dua arah juga dibangun dengan hangat agar materi mengenai pembaruan sistem pengelolaan sampah dapat dipahami secara menyeluruh dan memicu semangat warga untuk kembali bergerak bersama.
Dalam pemaparannya, mahasiswa menyoroti berbagai faktor akar masalah yang menyebabkan terhentinya operasional bank sampah sebelumnya, seperti ketidakhadiran pengepul pada jadwal yang disepakati dan kebiasaan warga yang lebih memilih menjual sampah anorganiknya secara langsung kepada tukang rosok keliling. Untuk mengatasi hal tersebut, diperkenalkanlah sistem tata kelola baru yang menekankan pada pembagian peranyang strategis dan adil.
"Banyak warga yang mengeluh karena sampah telanjur menumpuk saat pengepul batal datang, atau tergiur kemudahan uang tunai dari tukang rosok keliling. Oleh karena itu, kita ubah sistemnya hari ini agar beban tidak menumpuk di satu pihak. Ibu-ibu PKK cukup fokus memilah sampah organik dan anorganik dari dapur, sedangkan teman-teman Karang Taruna yang akan keliling menjemput sampah tersebut dan mengurus pengepulnya," ujar mahasiswa KKN di hadapan para peserta sosialisasi.
Lebih lanjut, mahasiswa KKN juga memberikan penekanan kuat pada pentingnya perubahan pola pikir warga terkait nilai ekonomis sebuah sampah. Warga diajak untuk melihat sampah anorganik yang telah terpilah bersih bukan sekadar sebagai rongsokan yang dijual putus, melainkan sebagai sebuah aset yang mampu dikonversi menjadi dana siaga. Melalui sistem tabungan di bank sampah, uang hasil pengumpulan sampah dapat mengendap dengan aman dan dicairkan pada momen-momen krusial, seperti untuk pemenuhankebutuhan mendesak, pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), atau dukungan pendanaan agenda desa.
Selain mendengarkan materi, peserta juga diajak berdiskusi secara interaktif mengenai klasifikasi jenis-jenis sampah rumah tangga. Berbagai kekeliruan mengenai pengelompokan sampah basah dan kering diluruskan dalam sesi ini, sehingga warga dapat memastikan sampah yang disetorkan berada dalam kondisi baik demi memaksimalkan nilai jual. Salah seorang pengurus PKK mengungkapkan antusiasmenya terhadap pembaruan sistem ini. "Dulu kami merasa lelah karena harus memilah, menimbang, dan mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan. Dengan adanya pembagian tugas yang jelas bersama adik-adik Karang Taruna seperti sekarang, kami jadi lebih semangat untuk memulai program ini lagi," ungkapnya.
Rangkaian kegiatan sosialisasi ini juga selaras dengan upaya perwujudan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini secara langsung mendukung pencapaian Tujuan 11 yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, serta Tujuan 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui edukasi pemilahan limbah dan manajemen bank sampah yang efektif, masyarakat desa turut andil secara nyata dalam mengurangi volume timbulan sampah akhir, menjaga kebersihan sanitasi lingkungan, sekaligus mendorong terciptanya sirkulasi ekonomi hijau di tingkat akar rumput.
Sebagai tindak lanjut sekaligus pengingat visual bagi masyarakat, kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan luaran program berupa poster edukasi. Poster yang dirancang khusus dengan bahasa visual yang membumi tersebut memuat panduan ringkas mengenai standar pemilahan sampah, alur kerja sistem jemput bola, serta informasi jadwal rutin penimbangan. Penyerahan poster ini menjadi penanda simbolis atas komitmen bersama antara mahasiswa, perangkat desa, dan seluruh elemen warga untuk menjaga konsistensi jalannya tata kelola bank sampah yang baru.
Diharapkan, ilmu dan kesepakatan yang telah dirumuskan pada hari ini tidak hanya berhenti di ruang diskusi, melainkan benar-benar diterapkan secara konsisten. Sinergi yang kuat antara semangat ibu-ibu PKK dan tenaga penggerak dari Karang Taruna diyakini mampu menjadikan bank sampah Desa Cukilan sebagai percontohan program pengelolaan lingkungan yang berhasil.
"Saya berharap semangat kebersamaan ini terus dijaga dan ilmunya disebarluaskan ketetangga yang belum hadir. Sistem yang baru ini tidak akan berjalan maksimal tanpa adanyakomitmen yang kuat dan konsisten dari seluruh elemen warga Desa Cukilan," pungkas mahasiswa KKN tersebut menutup kegiatan sosialisasi.