Cukilan, Suruh, Kabupaten Semarang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro (Undip), Kuncoro Restu Nugroho (NIM 21080123130075), menginisiasi sebuah program lingkungan berbasis masyarakat di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Program kerja KKN ini menggandeng kelompok ibu-ibu PKK dan majelis taklim setempat untuk mempraktikkan langsung cara pembuatan dan penanaman lubang resapan biopori. Tujuannya sangat jelas, yaitu memberikan solusi praktis dalam menangani tumpukan sampah organik rumah tangga sekaligus memperbaiki sistem resapan air tanah di lingkungan perdesaan.
Kegiatan edukasi ini mengambil tempat di pelataran rumah salah satu warga yang memang sering menjadi lokasi kumpul rutin para ibu. Suasananya berlangsung hangat dan membaur. Puluhan peserta tampak antusias duduk lesehan melingkar menyimak penjelasa ndari mahasiswa KKN. Tidak sekadar teori, acara ini langsung dilanjutkan dengan praktik melubangi tanah menggunakan bor biopori dan memasang pipa paralon yang telah dimodifikasi, untuk kemudian diisi dengan sisa-sisa bahan organik dapur.
Dalam paparannya, Kuncoro Restu Nugroho menyoroti kebiasaan membuang limbah dapur yang sebenarnya memiliki potensi ekologis besar jika dikelola dengan benar. Biopori merupakan metode sederhana yang berlapis manfaat—mulai dari memproduksi pupuk kompos alami hingga mencegah genangan air hujan karena kemampuannya mempercepat laju infiltrasi air ke dalam tanah.
"Sayang sekali kalau sisa sayuran, sisa nasi, atau kulit buah dari dapur itu cuma berujung di tempat sampah. Lewat biopori ini, kita justru bisa 'memberi makan' tanah. Sampah organiknya nanti membusuk jadi kompos yang bikin tanah subur, dan lubangnya sendiri akan jadi jalan pintas buat air hujan meresap. Jadi, halaman rumah ibu-ibu tidak akan mudah becek atau tergenang air saat musim hujan," jelas Kuncoro kepada para peserta yang hadir.
Edukasi ini diharapkan bisa menumbuhkan kemandirian warga dalam mengelola limbah domestiknya. Mahasiswa membeberkan panduan lengkap, mulai dari kriteria sampah organik yang ideal, seberapa dalam tanah harus digali, hingga cara merawat lubang biopori tersebut supaya fungsinya tidak menurun. Peserta juga diajak berdiskusi santai dan bertukar cerita mengenai kebiasaan membuang sampah di rumah masing-masing. Sesi ini sukses membongkar beberapa pemahaman yang kurang tepat seputar pengolahan limbah. Seorang ibu PKK menuturkan rasa senangnya karena baru paham bahwa membuat resapan air sekaligus tempat pengomposan ternyata sangat mudah diaplikasikan dan tidak membutuhkan biaya mahal.
Lebih dari sekadar program kerja kampus, inisiatif pembuatan biopori ini merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui perbaikan kualitas dan resapan air tanah, kegiatan ini secara langsung mendukung ketersediaan air bersih sesuai dengan tujuan SDG 6. Selain itu, upaya mereduksi risiko genangan lokal sejalan dengan visi SDG 11 untuk menciptakan permukiman yang aman dan berkelanjutan. Dari sisi manajemen limbah, inisiatif mendaur ulang sisa dapur menjadi kompos mencerminkan target SDG 12 tentang pola konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab. Praktik ini juga mengambil peran kecil namun penting dalam SDG 13 terkait penanganan perubahan iklim, karena menekan volume sampah organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) otomatis akan mengurangi pelepasan gas metana ke udara.
Sebagai penutup, program ini mendapat sambutan positif dari perangkat desa setempat. Diharapkan, ilmu yang dibagikan tidak berhenti pada hari itu saja, melainkan menjadi kebiasaan baru yang ramah lingkungan bagi seluruh warga Desa Cukilan.
"Saya sangat berharap ibu-ibu di sini bisa mulai mempraktikkan pembuatan biopori di halaman rumah masing-masing. Bayangkan kalau setiap rumah punya satu atau dua lubang saja, efek jangka panjangnya buat ketersediaan air dan kebersihan desa kita bakal luar biasa. Mari kita mulai dari langkah kecil ini untuk menjaga alam tempat tinggal kita," pungkas Kuncoro menutup rangkaian acara.