Bagi sebagian besar warga, kardus bekas kemasan atau kaleng minuman yang menumpuk di sudut dapur biasanya berakhir di tempat sampah tanpa banyak dipikirkan lagi. Begitu pula yang terjadi di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Sampah rumah tangga masih kerap dipandang sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan, bukan sesuatu yang layak dilirik nilainya.
Padahal, tidak semua sampah berakhir sia-sia. Sebagian di antaranya, terutama sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, hingga besi, sebenarnya masih bisa dijual dan memiliki harga di tingkat pengepul. Persoalannya, tidak banyak warga yang benar-benar memahami hal ini secara mendalam.
Dari sinilah muncul gagasan sederhana namun relevan: mengapa tidak mencoba menjembatani kesenjangan pemahaman itu? Carissa Sinurat, mahasiswa Program Studi Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Cukilan, kemudian menginisiasi program bertajuk "Edukasi Pemanfaatan Nilai Ekonomi Sampah melalui Media Informasi bagi Masyarakat Desa Cukilan".
Sebenarnya, Desa Cukilan tidak berangkat dari nol. Desa ini sudah memiliki Bank Sampah yang menjadi wadah bagi warga untuk menyetorkan sampah anorganik. Sayangnya, keberadaan Bank Sampah saja belum cukup jika warga belum memahami mengapa sampah tertentu layak dipilah, apalagi soal bagaimana nilai jualnya bisa berbeda-beda.
Kesenjangan antara fasilitas yang sudah tersedia dan pemahaman warga inilah yang menjadi titik berangkat program ini. Bukan untuk membangun sesuatu yang baru sama sekali, melainkan untuk mengisi bagian yang selama ini terlewat: informasi.
Program ini tidak disusun hanya berdasarkan asumsi. Sebelum menentukan bentuk akhirnya, dilakukan observasi lapangan sekaligus diskusi langsung dengan pengurus Bank Sampah Desa Cukilan dan pengepul sampah setempat. Dari situ, tergali gambaran nyata mengenai jenis-jenis sampah yang paling sering disetorkan warga, bagaimana mekanisme kerja Bank Sampah berjalan, sampai kisaran harga yang berlaku di tingkat pengepul.
Awalnya, program ini sempat dirancang dalam bentuk panduan pemanfaatan nilai ekonomi sampah yang lebih rinci. Namun, setelah mempertimbangkan siapa yang akan membacanya dan bagaimana informasi bisa lebih mudah dicerna, bentuknya kemudian disederhanakan menjadi media yang lebih ringkas dan visual: sebuah poster edukasi. Salah satu bagian menarik dari hasil diskusi bersama pengepul adalah terungkapnya alur perjalanan sampah yang selama ini mungkin tidak banyak dipikirkan warga. Sampah yang disetorkan ke Bank Sampah pada umumnya masih dalam kondisi tercampur. Dari sana, pengepul desa akan memilahnya kembali berdasarkan jenis dan karakteristik material, sebelum akhirnya disalurkan ke pengepul besar atau pembeli di kota sesuai kategorinya masing-masing.
Singkatnya, alurnya kurang lebih seperti ini: warga mengumpulkan sampah anorganik, menyetorkannya ke Bank Sampah, sampah ditimbang dan dicatat, lalu diteruskan ke pengepul untuk disalurkan lebih lanjut. Rantai sederhana ini ternyata menjelaskan banyak hal, termasuk mengapa memilah sampah sejak dari rumah sebenarnya sangat membantu proses di tahap-tahap berikutnya.
Sebagai mahasiswa Ekonomi, Carissa mencoba menghadirkan sudut pandang yang relevan dengan bidang yang ia pelajari, yaitu bagaimana sesuatu yang tampak sepele bisa memiliki nilai jika dilihat dari sisi yang tepat. Salah satu pesan yang ingin disampaikan lewat poster ini adalah bahwa harga sampah tidak seragam. Ia bergantung pada jenis material, kualitas, kondisi fisik, berat, hingga kondisi pasar yang sedang berlaku.
Sebagai gambaran, berdasarkan informasi dari pengepul setempat pada saat pengumpulan data, kardus berada di kisaran Rp1.900 per kilogram, kaleng sekitar Rp2.700 per kilogram, dan pipa sekitar Rp3.000 per kilogram. Beberapa jenis besi memiliki rentang harga yang lebih lebar, mulai dari sekitar Rp4.000 hingga Rp5.300 per kilogram tergantung kualitasnya. Sementara itu, logam-logam tertentu seperti aluminium, kuningan, hingga tembaga disebut memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibanding sampah rumah tangga pada umumnya, meski jenis-jenis ini memang tidak sesering itu ditemukan di rumah tangga biasa.
Perlu digarisbawahi, angka-angka tersebut bukan harga resmi atau tetap. Semuanya merupakan informasi dari pengepul setempat pada waktu data itu dikumpulkan, dan bisa saja berubah mengikuti kondisi pasar, permintaan, maupun kualitas sampah itu sendiri. Justru dari situlah pentingnya memahami logika di baliknya: bahwa memilah sampah berdasarkan jenis dan menjaga kualitasnya bisa berpengaruh pada nilai yang bisa diperoleh nantinya.
Semua temuan dari observasi dan diskusi tadi akhirnya dirangkum ke dalam satu media yang ringkas: poster edukasi. Poster ini mengenalkan berbagai jenis sampah yang punya potensi nilai ekonomi, mulai dari botol plastik, kardus, kertas, kaleng, seng, pipa, berbagai jenis plastik, besi, hingga beberapa jenis logam.
Pemilihan format poster bukan tanpa alasan. Media ini dianggap cukup ringkas, mudah dibaca sekilas, dan bisa ditempatkan di lokasi-lokasi yang sering dilalui warga, seperti area Bank Sampah atau ruang publik desa. Dengan begitu, informasi bisa terus diakses tanpa harus menunggu sesi penyuluhan atau sosialisasi tatap muka. Rangkaian program ini tidak berhenti setelah poster selesai dicetak. Sebagai bagian penting dari kegiatan, poster tersebut kemudian diserahkan secara langsung kepada Bapak Kepala Desa Cukilan, bertempat di Balai Desa Cukilan.
Penyerahan ini menjadi simbol bahwa media edukasi yang telah disusun bukan sekadar dokumentasi kegiatan KKN, melainkan sesuatu yang memang dimaksudkan untuk terus dipakai oleh desa. Dengan berada di tangan pemerintah desa, poster berpeluang lebih besar untuk ditempatkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan, bahkan jauh setelah masa KKN selesai.
Melalui program dan poster yang dihasilkan, harapannya sederhana yaitu warga Desa Cukilan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai jenis-jenis sampah rumah tangga yang punya nilai ekonomi, memahami bahwa harganya tidak seragam, sekaligus mengenali bagaimana sampah tersebut mengalir dari rumah tangga, ke Bank Sampah, hingga ke pengepul.