Kembali ke halaman berita
Berita

Mahasiswa Teknik Lingkungan Undip Susun Buku Pedoman Bank Sampah Desa Cukilan, Soroti Mitigasi Kendala Lapangan dan Logistik

Penanggung Jawab: Kepala Desa · Editor: Sekretaris Desa · 17 Agustus 2026, 22:36 WIB · 4 menit baca
Bagikan: WhatsApp X (Twitter)

     Cukilan, Suruh, Kabupaten Semarang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) dari program studi Teknik Lingkungan, Kuncoro Restu Nugroho (NIM 21080123130075), menyerahkan draf akhir "Buku Pedoman Pengelolaan Bank Sampah Desa Cukilan" kepada Kepala Desa setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN yang bertujuan untuk memberikan landasan operasional yang terstruktur bagi pengurus Rukun Tetangga (RT) dalam mengelola tata kelola persampahan di lingkungan masing-masing, khususnya dalam aspek kemitraan dan mitigasi lapangan.

​     Penyerahan dan pemaparan buku pedoman ini berlangsung di Balai Desa Cukilan. Dalam suasana formal namun hangat, pemaparan difokuskan pada Bab 6 yang berjudul"Kemitraan Eksternal dan Mitigasi Kendala Lapangan". Bab ini disusun secara khusus untukmenjawab kendala infrastruktur desa yang belum memiliki fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) atau gudang penyimpanan terpusat.

Penyerahan draf Buku Pedoman Pengelolaan Bank Sampah Desa Cukilan oleh MahasiswaKKN Undip kepada Kepala Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

     ​Dalam pemaparannya, Kuncoro menjelaskan bahwa ketiadaan fasilitas gudang mengharuskan bank sampah tingkat RT beroperasi dengan sistem perputaran barang yang sangat cepat (zero-inventory logistics). Oleh karena itu, ia menyoroti pentingnya mengubah perspektif warga terhadap keberadaan tukang rosok keliling.

“Banyak masyarakat yang menganggap tukang rosok sebagai pihak luar, padahaldalam kondisi tanpa gudang ini, mereka adalah aktor kunci. Melalui pedoman ini, kita merangkul tukang rosok lokal sebagai mitra strategis agar sampah anorganik yang terkumpul dari warga bisa langsung terangkut ke pengepul besar pada hari yang sama, sehingga tidak ada penumpukan di area pemukiman,” ujar Kuncoro di hadapan perangkat desa.

​     Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa program penyusunan pedoman logistik inisecara langsung mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini selaras dengan SDGs 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan) melalui pengurangan dampak lingkungan dari limbah padat, serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) lewat pengelolaan tata rantai pasok sampah yang sistematis. Keterlibatan tukang rosok lokal sebagai mitra juga turut mendorong capaian SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan memberikan jaminan harga dan kelancaran perputaran modal bagi pekerja sektor informal.

     Selain mengatur skema kemitraan, buku pedoman ini juga membekali pengurusdengan prosedur mitigasi darurat. Mahasiswa KKN mengajak perangkat desa untuk menyadari risiko operasional, seperti ketika mitra tukang rosok batal atau terlambat mengambil sampah. Pedoman ini memuat aturan taktis mulai dari batas waktu konfirmasi, penyediaan daftar mitra cadangan, hingga opsi penundaan pelayanan sementara agar sampah tidak mencemari lingkungan sekitar.

​     Langkah penyusunan buku pedoman ini disambut baik oleh Kepala Desa Cukilan beserta jajarannya. Beliau menyampaikan apresiasi atas dokumen tata kelola yang dinilai memberikan solusi praktis dan aplikatif bagi warga, mengingat manajemen sampah selama ini sering kali terhambat oleh kebingungan warga dalam mengatur jadwal buang dan ketiadaan tempat penampungan.

​     Dengan adanya SOP yang jelas, diharapkan tercipta kesadaran kolektif dari para pengurus tingkat RT untuk mengelola bank sampah dengan lebih profesional.

“Harapan saya, buku pedoman ini tidak hanya berakhir sebagai dokumen administratif di balai desa, tetapi benar-benar diimplementasikan sebagai pedoman kerjaharian. Dengan sistem kemitraan yang kuat dan prosedur mitigasi yang jelas, perputaran ekonomi sirkular warga tetap berjalan lancar dan lingkungan Desa Cukilan tetap bersih serta sehat,” pungkas Kuncoro menutup kegiatan tersebut.

​     Program perancangan pedoman operasional ini diharapkan dapat menjadi fondasi program berkelanjutan yang mendukung kelestarian sanitasi lingkungan dan kemandirian ekonomi masyarakat di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.