Sampah rumah tangga sering kali dianggap sebagai persoalan yang selesai begitu dibuang, tanpa disadari bahwa di dalamnya tersimpan potensi nilai yang dapat dimanfaatkan kembali. Kesadaran akan hal ini masih perlu terus dibangun, termasuk di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, tempat Bank Sampah telah berdiri sebagai sarana pengumpulan sampah dari masyarakat. Menjawab kebutuhan tersebut, Carissa Sinurat, mahasiswa Program Studi Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, menghadirkan program kerja bertajuk "Edukasi Pemanfaatan Nilai Ekonomi Sampah melalui Media Informasi bagi Masyarakat Desa Cukilan".
Keberadaan Bank Sampah di Desa Cukilan menjadi modal penting dalam upaya pengelolaan sampah rumah tangga secara lebih tertata. Namun, sarana ini akan lebih optimal jika diiringi dengan pemahaman warga mengenai jenis-jenis sampah, alur penyetoran, serta alasan mengapa pemilahan sejak dari rumah perlu dibiasakan. Tanpa pemahaman tersebut, sampah yang sampai di Bank Sampah masih berpotensi tercampur, sehingga proses pemilahan lanjutan menjadi lebih memakan waktu dan tenaga. Dari kondisi inilah muncul kebutuhan akan media informasi yang dapat menjelaskan hal-hal tersebut secara ringkas dan mudah dipahami.
Program ini pada awalnya dirancang dalam bentuk panduan pemanfaatan nilai ekonomi sampah untuk mendukung keberlanjutan Bank Sampah Desa Cukilan. Dalam realisasinya di lapangan, luaran program dibuat lebih sederhana dan aplikatif, yaitu berupa media informasi atau panduan Bank Sampah. Media ini disusun dengan memperhatikan kondisi Bank Sampah Desa Cukilan yang sebenarnya, sehingga isinya dapat langsung relevan dengan kebutuhan warga maupun pengelola Bank Sampah setempat.
Media informasi yang disusun memuat pengenalan jenis-jenis sampah, yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3, lengkap dengan contoh-contoh yang umum ditemukan dalam rumah tangga sehari-hari. Selain pengenalan jenis, media ini juga menjelaskan alur penyetoran sampah ke Bank Sampah Desa Cukilan secara berurutan, mulai dari memilah sampah dari rumah, mengumpulkannya, menyetorkan ke Bank Sampah, hingga proses penimbangan, pencatatan, dan penyaluran.
Tidak berhenti pada pengenalan jenis dan alur, media ini turut menguraikan alasan mengapa pemilahan sampah penting untuk dibiasakan, di antaranya karena dapat menjaga lingkungan tetap lebih bersih, membuka potensi nilai ekonomi pada sampah tertentu, membuat pengelolaan menjadi lebih mudah, serta mendukung keberlangsungan Bank Sampah itu sendiri. Sebagai pelengkap, media ini juga memuat tips sederhana sebelum menyetorkan sampah, seperti membersihkan sampah terlebih dahulu, memastikan kondisinya kering, memisahkan sesuai jenis, serta melipat atau mengemas sampah seperti kardus dan kertas agar lebih rapi saat disetorkan
Berbeda dengan gambaran sosialisasi yang menyasar seluruh warga secara langsung, realisasi program ini dilakukan dengan menyerahkan media informasi tersebut kepada Balai Desa Cukilan, tepatnya kepada pemerintah desa atau perangkat desa setempat. Langkah ini dipilih agar media informasi dapat ditempatkan dan dimanfaatkan di Balai Desa, sehingga warga yang datang untuk berbagai keperluan administratif maupun lainnya turut memiliki akses terhadap informasi mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah.
Melalui keberadaan media informasi di Balai Desa, warga yang berkunjung diharapkan dapat memperoleh sumber informasi mengenai jenis-jenis sampah rumah tangga beserta gambaran sederhana mengenai alur penyetorannya ke Bank Sampah. Media ini juga diharapkan dapat mendorong warga untuk mulai membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah, sekaligus memperkenalkan bahwa sampah tertentu masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat. Dengan demikian, pemahaman mengenai hubungan antara pemilahan sampah dan keberlanjutan Bank Sampah dapat berkembang secara bertahap di tengah masyarakat, meskipun penyampaiannya tidak dilakukan melalui sosialisasi tatap muka kepada seluruh warga.
Sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi, Carissa turut menghadirkan perspektif ekonomi dalam penyusunan media ini. Sampah tertentu yang telah dipilah berdasarkan jenisnya akan lebih mudah dikelola dan disalurkan, sekaligus membuka potensi manfaat ekonomi yang sebelumnya kurang disadari oleh warga. Bank Sampah, dalam hal ini, dapat menjadi wadah yang menghubungkan kegiatan pemilahan sampah rumah tangga dengan pemanfaatan nilai ekonomi yang menyertainya. Pemahaman semacam ini penting agar warga tidak hanya memandang sampah sebagai persoalan yang perlu disingkirkan, melainkan juga sebagai sesuatu yang dapat dikelola secara lebih bermanfaat.
Program ini sejalan dengan SDG 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui media informasi mengenai jenis sampah, alur Bank Sampah, dan pentingnya pemilahan, program ini turut mendorong pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih bertanggung jawab serta pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai. Kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah, sebagaimana dijelaskan dalam media ini, menjadi salah satu langkah kecil yang dapat berkontribusi pada berkurangnya sampah yang berakhir tanpa pengelolaan yang tepat.
Media informasi yang telah diserahkan kepada Balai Desa Cukilan ini diharapkan dapat terus dimanfaatkan sebagai sarana informasi bagi warga, jauh melampaui masa pelaksanaan program KKN itu sendiri. Pemilahan sampah yang dimulai dari langkah sederhana di rumah tangga, jika dibiasakan secara konsisten, berpotensi memberikan dampak yang berarti bagi keberlanjutan Bank Sampah Desa Cukilan. Melalui media ini, harapannya warga Desa Cukilan memiliki rujukan yang mudah diakses kapan pun dibutuhkan, sekaligus pengingat bahwa di balik sampah yang setiap hari dihasilkan, terdapat nilai yang layak untuk dikelola dengan lebih bijak. Program ini mendorong pemilahan dan pemanfaatan kembali sampah rumah tangga secara lebih optimal melalui media informasi mengenai jenis sampah, alur Bank Sampah, dan pentingnya pemilahan sejak dari rumah, sejalan dengan semangat pengelolaan sumber daya yang lebih bertanggung jawab di tingkat rumah tangga.