Kabupaten Semarang, 7 Agustus 2026 --- Persoalan sampah yang selama ini identik dengan asap pembakaran dan bau tak sedap, kini coba diubah wajahnya oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 80 Universitas Diponegoro (UNDIP) yaitu oleh Alya Widya Fatikha, dari program studi Akuakultur. Melalui program sosialisasi Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber), sampah rumah tangga berupa galon bekas air mineral disulap menjadi wadah budidaya lele yang menjanjikan hasil panen bergizi dan bernilai ekonomis.
Kegiatan ini bertempat di Dusun Banjaran Gunung, Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Sosialisasi budikdamber menjadi salah satu materi dalam forum besar bertajuk "Pencerdasan Pengelolaan Bank Sampah Berkelanjutan Masyarakat Desa Cukilan", yang turut mengundang perwakilan warga dari tiap dusun, meliputi perangkat desa, pengurus bank sampah dari unsur Karang Taruna dan Ibu PKK, serta para peternak setempat.
Forum diawali dengan menggali kebiasaan warga dalam mengelola sampah rumah tangga selama ini. Dari diskusi yang berkembang, terungkap bahwa mayoritas warga masih membakar sampah dengan alasan praktis, cepat habis dan tidak menyisakan tumpukan. Menanggapi hal ini, mahasiswa KKN menjelaskan dampak negatif pembakaran sampah yang sering luput dari perhatian, mulai dari pencemaran udara hingga risikonya bagi kesehatan pernapasan warga sekitar.
Dari titik inilah, solusi berbasis pemanfaatan barang bekas pun diperkenalkan --- salah satunya budikdamber, berdampingan dengan upaya reaktivasi dan optimalisasi bank sampah desa melalui platform digital yang disampaikan oleh anggota tim KKN lainnya. Materi budikdamber disampaikan secara khusus oleh mahasiswa dari Jurusan Akuakultur, mencakup pengertian budikdamber, alat dan bahan yang dibutuhkan, hingga langkah-langkah pembuatannya. Uniknya, media yang digunakan bukan ember konvensional melainkan galon bekas air mineral merek Le Mineral, pilihan yang sekaligus menjawab persoalan sampah plastik di lingkungan desa.
Budikdamber dinilai cocok diterapkan oleh warga Cukilan karena beberapa alasan modal yang dikelaurkan minim, cocok bagi pembudidaya pemula; tidak membutuhkan lahan luas, sehingga bisa diterapkan di pekarangan rumah sekalipun sempit; hasil ekonomis, mampu memenuhi kebutuhan gizi protein keluarga secara mandiri; bisa dipadukan dengan akuaponik, sehingga dari satu wadah bisa dipanen dua hasil sekaligus: ikan lele dan sayuran.
Pemaparan materi dilakukan melalui presentasi (PPT) yang disertai pembagian flyer budikdamber kepada seluruh peserta forum, agar informasi dapat dipelajari kembali dan diterapkan warga saat musim penghujan tiba. Pemilihan waktu penerapan yang disarankan bukan tanpa alasan. Berdasarkan sowan tim KKN kepada Kepala Desa dan para Kepala Dusun, diketahui bahwa budidaya lele sebenarnya sudah cukup familiar di hampir setiap dusun Cukilan. Namun, aktivitas tersebut terpaksa "libur" selama periode pelaksanaan KKN pada Juli--Agustus 2026 akibat keterbatasan pasokan air di musim kemarau.
Atas pertimbangan itu pula, sosialisasi tidak disertai demonstrasi langsung pembuatan budikdamber. Sebagai gantinya, tim KKN menampilkan produk jadi budikdamber yang telah dipadukan dengan sistem akuaponik, sehingga warga dapat melihat langsung wujud nyata dan gambaran hasil akhir dari sistem budidaya yang diperkenalkan.
Program ini juga sejalan dengan beberapa SDGs yaitu SDGs 2 dan 3 lewat akses gizi protein dan pengurangan risiko kesehatan dari asap pembakaran, dan SDGs 14 lewat penyediaan protein alternatif dariperikanan tangkap. Melalui sosialisasi ini, mahasiswa KKN Tematik UNDIP berharap warga Desa Cukilan, mulai dari peternak, pengurus bank sampah, hingga ibu rumah tangga dapat memperoleh akses gizi protein secara mudah dan murah. Budikdamber dinilai sebagai solusi yang inklusif karena tidak membutuhkan modal besar maupun keahlian khusus, sehingga siapa pun berpotensi mempraktikkannya di rumah masing-masing. Program ini menghasilkan sejumlah luaran konkret, yaitu materi presentasi dan flyer tata cara budikdamber terpadu akuaponik yang dibagikan kepada masyarakat, serta satu unit produk jadi budikdamber sebagai contoh penerapan nyata di lapangan.